Tuesday, December 28, 2010

Syarh Ushul I'tiqaad Ahl as-Sunnah wa al-Jama'ah li Al-Lalaka'i

 
Abu al-Qasim Al-Lalaka'i Ash-Shafi'i (wafat 418 H.) mengatakan: “Apa yang telah diriwayatkan mengenai firman Allah Ta'ala: {“(yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas 'Arsy”} [Surah Thaha : 5] dan bahwa Allah berada di atas Arasy di atas Langit.

Dan Dia Azza wa Jalla mengatakan: {“… kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkan-Nya”} [Surah Fathir :10]

Dan Dia berfirman: {“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahawa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu,…} [Surah Al-Mulk :16]

Dan Dia berfirman: {“Dan Dia-lah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. ...”} [Surah Al-An'aam :18].

Dengan demikian ayat ayat ini menjadi hujjah bahwa Allah berada di atas Arasy, dan Ilmu-NYA berada di mana mana, di bumi-NYA dan di langit-NYA. Dan keyakinan ini diriwayatkan dari para Sahabat: Dari Umar, Ibn Mas'ud, Ibn Abbas, dan Ummu Salamah radiyallahu 'anhum.

Dan dari Tabi'in: Rabi'ah bin Abi Abdur-Rahman, Sulaiman At-Taimi, dan Muqatil bin Hayyan. Dan ini juga merupakan perkataan Fuqaha : Malik bin Anas, Sufyan Ath-Thauri, dan Ahmad bin Hanbal.”

[ruj: Syarh Ushul I'tiqaad Ahl as-Sunnah wa al-Jama'ah li Al-Imam Abu al-Qasim Al-Lalaka'i, juz 3, hlm 430, cet. ke-8, Daar Thayyibah - edisi tahqiq Dr Ahmad Sa'ad Hamdan]

Sunday, December 12, 2010

Hijrah Menuju Kitab Allah [ AL-QUR'AN]

HIJRAH ertinya meninggalkan. Hijrah kepada sesuatu ertinya berpindah dari sesuatu yang lama kepada sesuatu yang baru. Dalam tinjauan syari’at, hijrah adalah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah SWT [ ruj : Fathul Baari Syarh Sahih al-Bukhari].

 Justeru marilah kita berhijrah untuk menjadi Muslim yang lebih baik dari sebelumnya. Atau dalam ertikata yang lain berusaha mewajahi diri sebagai Muslim yang sesungguhnya dalam rupanya yang asal, yang segar sebagaimana dijelaskan Nabi SAW, dididik pada jalan Nubuwwahnya yang mulia.

Dan sebaik-baik permulaan penghijrahan adalah perdampingannya dengan Kitabullah dalam skala yang lebih besar. Kemudian di tikar solat.


Firman Allah SWT : “ Bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu iaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat..” ( Al-Ankabut : 45)

Firman Allah SWT lagi : “ Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari Kurnia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri” (Fathir : 29-30)

Dan Rasulullah SAW bersabda :”Bacalah Al-Qur’an, kerana ia datang pada hari Kiamat , menjadi pemberi syafaat bagi pembacanya” (H/R Muslim)

Dan sabda Rasulullah SAW lagi : “Sebaik-baik kamu ialah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (H/R Bukhari)

Juga sabda Baginda SAW  : ”Perumpamaan orang-orang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah Utrujjah baunya wangi dan rasanya enak, dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah kurma, tidak ada baunya namun rasanya manis, dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an seperti Raihanah baunya wangi dan rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah Handzolah, ia tidak ada baunya dan rasanya pahit” (Muttafaq ’alaihi)


Dalam hadith yang lain baginda bersabda : ”Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia pandai membacanya, ia bersama para Malaikat yang mulia, dan yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan ia kesulitan membacanya, ia mendapat dua pahala” (Muttafaq ’alaihi)

[Syeikh Ibnu 'Utsaimin(rhm) dalam bukunya Majaalis Syahri Ramadhan menjelaskan dua pahala yang dimaksud hadith tersebut ialah satu pahala untuk membaca al-Qur'an dan satu pahala lagi untuk kesulitan yang dialami ketika membacanya.]

Justeru, apakah setelah ini ada alasan bagi seorang Muslim sejati untuk bermalas-malasan membaca Al-Qur’an dan menghayati makna-maknanya?

 Kata Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah(rhm) dalam bukunya Miftah Dar as-Sa'adah :

"Tidak ada sesuatu pun yang lebih bermanfaat bagi hati melebihi Al-Qur'an apabila dibaca dengan bertadabbur dan tafakkur. Membaca dengan bertadabbur dan tafakkur adalah puncak kedudukan orang yang berusaha, beramal dan yang mengetahui. Dengan cara itu akan melahirkan kecintaan, kerinduan, takut, harapan, taubat, tawakal, redha, syukur, sabar dan sifat-sifat lain yang dapat menghidupkan matinya hati. Membaca dengan tadabbur dan tafakkur juga dapat menjauhkan seseorang dari semua sifat dan perbuatan tercela yang merusak hati.

Seandainya manusia tahu faedah membaca Al-Qur'an dengan bertadabbur, tentu mereka memanfaatkannya dan mengesampingkan yang lainnya......"

Dan bagaimana kita ini wahai kawan? Sudahkah kita mendalami Kitabullah? Marilah kita menjadikan motto kehidupan kita ialah : "MEMBACA AL-QUR'AN SETIAP HARI".

Marilah saudara-saudara yang mulia, kita tinggalkan perdebatan yang merugikan, menuju tadabbur kalam Tuhan.

Padanya ada pedoman, petunjuk kepada jalan keselamatan. Ada cahaya, bahkan cahaya, penyembuh penyakit di dalam dada.

Firman Allah SWT :

“Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran” (Shad : 29)

“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan khabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri” ( an-Nahl : 89)

“ Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”   ( Yunus : 57)


Thursday, June 17, 2010

10 Kitab Aqidah - 3 Fasa Pembacaan

Bismillahirrahmanirrahim...

Sekadar perkongsian pandangan dan cadangan...

Ini adalah cadangan tela'ah yang pernah saya buat untuk diri sendiri bagi kitab-kitab 'aqidah (yang melalui 3 fasa pembacaan...)

Fasa 1

1) Syarh Tsalatsatul Ushul @ at-Tanbiihaat al-Mukhtasharah
2) Fathul Majid Syarh Kitab at-Tauhid





Syarh Tsalatsatul Ushul adalah karya Al-'Allamah Syeikh Ibnu Utsaimin(rhm) manakala kitab at-Tanbiihaat al-Mukhtasharah adalah karya Syeikh Ibrahim bin as-Syeikh Shalih bin Ahmad al-Khuraishi [diterjemah atas judul : Hal-hal yang wajib diketahui setiap Muslim]. Kedua-dua kitab ini[ dan perbahasan dalam at-Tanbiihaat adalah lebih luas] adalah membahas persoalan sekitar tiga ushul yang wajib dipelajari oleh setiap Muslim yaitu mengenal Allah Subhanahu Wa Ta'ala, mengenal agama-Nya (Islam), dan mengenal Nabi-Nya, Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallam. Ketiga hal itulah yang akan ditanyakan kepada setiap hamba ketika ia berada di alam kubur.

Jika ditambah dengan kitab di bawah ini maka ianya dianggap usaha yang sangat baik dan mencukupi iaitu kitab :

3) Syarh 'Aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah li Ustaz Yazid Abd al-Qadir Jawas


Fasa 2

1) Syarh 'Aqidah at-Thahawiyah - edisi pilihan adalah edisi yang ditahqiq oleh Syeikh Syua'ib Arnau'th dan Dr Abdullah at-Turki. Juga menjadi pilihan edisi yang ditahqiq oleh Syeikh Al-Albani(rhm) dan edisi Tahzib oleh Syeikh Al-Ghunaimi.

2) Syarh 'Aqidah Wasithiyah li Ibnu Utsaimin(rhm)

Pada fasa ini jika ditambah dengan kitab di bawah ini maka ianya satu usaha yang sangat terpuji iaitu kitab :

3)Ma'arij Al-Qabul 



Fasa 3

1) Kitab at-Tauhid li Ibnu Khuzaimah (rhm)
2) Kitab Khalqu Af'al Ibad li al-Bukhari - Al-Hafiz Al-Mizzi pernah membacakan kitab ini di khalayak pada zamannya sebagaimana dinukil oleh Al-Imam Ibnu Kathir (rhm) di dalam al-Bidayah wa al-Nihayah. Akibat daripadanya maka al-Hafiz Al-Mizzi dipenjara!!

3) Al-'Uluw li Az-Dzahabi(rhm) - Syeikh Al-Albani telah meringkaskan kitab ini (dengan takhrij secara ringkas). Kitab ini termasuk dari kitab-kitab yang sangat kucintai!

Pada fasa ini jika diluaskan tela'ah dengan kitab di bawah ini maka ia satu usaha yang perlu selalu disyukuri, kerana hanya dengan limpah kurnia-Nya kebaikan itu menjadi sempurna! Kitab terakhir yang menutup fasa ini yang sekaligus barangkali terakhir dalam hayat tua-ku, iaitu kitab :

4) Syarh Ushul I'tiqad Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah li al-Imam Al-Lalika'i(rhm)


Dan masih banyak kitab-kitab lain hanya saja manusia itu tidak ada yang kekal usianya...pendeknya masa dan dekatnya kematian...

Wallahu'alam.

Monday, January 18, 2010

Dari Lembaran Tsalatsatul 'Ushul

Syeikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab(rhm) berkata :

“Ketahuilah sesungguhnya wajib bagi kita mempelajari empat masalah.

Pertama : Ilmu – iaitu ma’rifatullah (mengenal Allah), kemudian mengenal Nabi-Nya dan mengenal Dinul Islam berdasarkan dalil-dalil.

Kedua : Mengamalkannya.

Ketiga : Mendakwahkannya.

Keempat : Bersabar terhadap gangguan di dalamnya.

Dalilnya adalah firman Allah Taa’la :

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal salih serta nasihat-menasihati untuk menegakkan kebenaran dan nasihat-menasihati untuk menetapi kesabaran”
(Al-‘Ashr :1-3)

Kata Al-Imam Asy-Syafi’i(rhm) : “Seandainya Allah tidak menurunkan hujah bagi manusia selain surah ini, nescaya telah cukup bagi mereka”

Al-Imam Al-Bukhari membuat satu bab dalam kitab Sahihnya dengan judul : “Bab : Al-‘Ilmu Qabla Al-Qauli wa Al-‘Amali – Bab ‘Ilmu Sebelum Ucapan dan Perbuatan”

Firman Allah Taa’la : “Ketahuilah bahawa sesungguhnya tidak ada Ilah selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu” (Muhammad : 19)

Kata Al-Imam Al-Bukhari(rhm) : “Di sini Allah memerintahkan berilmu terlebih dahulu sebelum beramal”

Ketahuilah setiap muslim dan muslimah wajib mempelajari dan mengamalkan tiga masalah ini.

Pertama : Bahawa Allah telah menciptakan dan memberi rezeki kita. Allah tidak membiarkan kita begitu saja, sia-sia, tetapi mengutus kepada kita seorang Rasul. Barangsiapa menaati Rasul tersebut pasti masuk Syurga, dan barangsiapa mendurhaka kepadanya nescaya masuk Neraka. Dalilnya adalah firman Allah Taa’la :

“Sesungguhnya Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul, yang menjadi saksi terhadapmu sebagaimana Kami telah mengutus seorang Rasul kepada Fir’aun. Maka Fir’aun mendurhakai Rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat” (Al-Muzammil : 15-16)

[Kata Syeikh Ibnu Utsaimin(rhm) : “Allah pasti mengutus para Rasul kepada manusia agar tegak hujah di hadapan mereka dan agar manusia beribadah kepada-Nya dengan melaksanakan apa yang dicintai dan diredhai-Nya”. Kata beliau(rhm) lagi : “Tidak mungkin kita dapat beribadah kepada Allah dengan melaksanakan apa-apa yang diredhai-Nya kecuali melalui pengabaran dari para Rasul a.s, kerana mereka sahajalah yang dapat menjelaskan kepada kita, apa yang dicintai dan diredhai oleh Allah serta apa yang dapat mendekatkan kita kepada-Nya…..”]

Kedua : Bahawa Allah tidak redha jika ada seseorang dipersekutukan dengan-Nya dalam ibadah kepada-Nya, baik ia seorang Malaikat terdekat mahupun Nabi yang diutus. Dalilnya adalah firman Allah :

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu kepunyaan Allah. Maka jangan menyembah seorang pun di dalamnya di samping Allah” (Al-Jinn : 18)

Ketiga : Bahawa barangsiapa yang menaati Rasul dan mengesakan Allah, tidak boleh memberikan wala’ kepada sesiapun yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya sekalipun mereka itu keluarga terdekat. Dalilnya adalah firman Allah Taa’la :

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya sekalipun orang-orang itu bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam Syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah redha terhadap mereka dan mereka pun redha terhadap-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung” (Al-Mujadilah : 22)

Ketahuilah –( semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya) – bahawa hanifiyyah, millah Ibrahim itu adalah hendaklah dirimu beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan hanya untuk-Nya. Itulah yang diperintahkan Allah kepada seluruh manusia dan untuk itu mereka diciptakan sebagaimana firman Allah :

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (Az-Dzariyat : 56).

Makna beribadah kepada-Ku di sini ialah mentauhidkan-Ku.

Perintah Allah yang paling agung adalah tauhid - iaitu mengesakan Allah dalam ibadah. Sedangkan larangan-Nya yang paling besar adalah syirik – iaitu beribadah kepada selain Allah di samping beribadah kepada-Nya. Dalilnya firman Allah Taa’la :

“Dan hendaklah kamu beribadah kepada Allah dan janganlah kamu sekutukan Dia dengan sesuatu pun…(An-Nisa’ : 36)”

[Kata Syeikh Ibnu Utsaimin(rhm) : Hendaklah kalian beribadah hanya kepada Allah, tidak mensyirikkan-Nya dengan sesuatu pun, tidak dengan seorang Nabi yang diutus, seorang Malaikat yang terdekat, seorang pemimpin, raja atau siapa saja di antara manusia. Kalian hanya beribadah kepada-Nya, diiringi rasa cinta(mahabbah), pengagungan(ta’zhim), harap(rughbah) dan takut/cemas(ruhbah).”]

[Nota : Tulisan hijau adalah tambahan dari syarah Al 'Allamah Syeikh Ibnu Utsaimin(rhm).Untuk huraian terperinci penjelasan Syeikh Muhammad bin Salih Al-Utsaimin ke atas matan di atas sila rujuk – Syarh Tsalatsatul Ushul]

Al-'Allamah Syeikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin(rhm)

Wednesday, April 1, 2009

Syarh Tsalatsatul Ushul

Kitab 'aqidah yang paling agung tentulah Kitabullah..Alangkah baiknya kiranya motto " Tidaklah berlalu suatu hari kecuali Kitab Allah dibaca padanya" berjaya diterapkan di dalam diri setiap individu muslim...

Tadabbur Al-Qur'an walaupun dari pintu mana saja datangnya akhirnya akan sampai kepada satu kesimpulan mutlak..."Sembahlah Allah saja...."


Kemudian kitab-kitab aqidah ditulis sebagai huraian dan hamparan perbahasan..Barangkali kitab paling awal yang sesuai sebagai permulaan selepas mulazamah dengan Kitabullah ialah Syarh Tsalatsatul Ushul li Ibnu Utsaimin. Di dalamnya dibahas berkenaan 3 soalan penting. Siapa Rabbmu? Apa Agamamu? Siapa Nabimu?
Kitab ini membahaskan 3 persoalan ushul yang paling penting yang wajib diketahui oleh setiap muslim dengan kefahaman yang benar. Tiga Ushul inilah yang merupakan 3 soalan awal yang ditanya di alam barzakh sebagaimana hadith yang panjang dari riwayat Al-Barra' bin Azib. Al-Imam Al-Albani (rhm)memaparkan hadith ini dalam bentuk yang sangat lengkap dalam kitabnya yang penuh manfaat : Ahkam al-Janaiz wa Bida'uha.(Hadith ini telah dipaparkan dengan lengkap pada artikel berjudul : 3 Soalan- Bahagia atau Sengsara). Kejayaan atau kegagalan berdepan hal ini akan menentukan pintu manakah yang bakal dibuka....Syurga atau Neraka? Pengakuan, keredhaan dan kepasrahan ke atas 3 ushul inilah juga menjadi zikir yang dianjurkan untuk dibaca pagi dan petang....


Jelas sekali kitab ini perlu dipilih sebagai kitab pertama yang perlu ditela'ah.Barangkali kerana kepentingan memahami 3 ushul ini secara mendalamlah menjadi sebab Al-Imam Al-Nasa'i meletakkan zikir yang menyebut 3 perkara ini (Aku redha Allah swt Rabb-ku, Islam agama-ku dan Nabi Muhammad SAW Nabi-ku) sebagai zikir-zikir yang awal di dalam kitab beliau Amal al-Yaum wa al-Lailah. Zikir ini perlu dibaca pagi dan petang.....


Edisi terbitan Al-Qowam merupakan antara edisi terjemahan yang baik.

"Buku Syarh Tsalatsatul Ushul ini merupakan buku induk yang wajib diketahui oleh setiap peribadi muslim, agar ia memiliki pemahaman yang sahih tentang dasar-dasar pokok agamanya.

Setiap muslim wajib mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, lalu mengamalkan dan mendakwahkan ilmunya, serta bersabar terhadap pelbagai gangguan yang muncul di dalamnya. Ilmu tentang Allah, Rasul dan Dinul Islam adalah ilmu-ilmu pokok. Itulah yang akan ditanyakan oleh Malaikat kubur kepada setiap manusia, saat kelak ia memasuki alam kubur. Kerana pentingnya ketiga ilmu ini, maka ia dikenal dengan sebutan Al-Ushul at-Tsalatsah atau Tsalatsatul Ushul yang ertinya "Tiga(ilmu) Pokok"

Buku ini berisi matan dan terjemahan kitab Tsalatsatul Ushul karya Syeikhul Islam Muhammad bin "Abdul Wahhab (rhm). Juga dilengkapi syarah kitab tersebut yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin(rhm). Insya-Allah, di dalam buku ini anda akan mendapatkan ulasan memadai yang akan membantu anda untuk memahami ketiga ilmu tersebut."
(Penerbit Al-Qowam – sebagaimana tertulis di belakang terjemahan kitab Syarah Tsalatsatul Ushul)



Edisi yang disyarah oleh tiga ulama dalam satu buku [Syeikh Abd al Aziz bin Abdullah bin Baz - Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin - Syeikh Shalih Alu Syeikh]

Monday, February 16, 2009

3 Soalan : Bahagia atau Sengsara?

Perkuburan Al-Baqi' - Madinah Al-Munawwarah

Dari Al-Barra’ bin ‘Azib katanya:

“Kami pernah pergi bersama Nabi SAW mengiringi jenazah salah seorang dari kaum Anshar. Lalu kami sampai di kuburan. Dan setelah jenazahnya dimasukkan ke liang lahad, Rasulullah SAW duduk (dengan menghadap kiblat) dan kami pun ikut duduk di sekeliling baginda. Seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Sedang di tangan baginda terdapat tongkat yang baginda hentakkan ke tanah.(Kemudian baginda melihat ke langit dan juga ke bumi. Baginda juga mengangkat dan menurunkan pandangannya sebanyak tiga kali). Selanjutnya baginda bersabda : “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari azab kubur” sebanyak dua atau tiga kali.(Kemudian baginda berdoa : “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur)”(tiga kali). Dan setelah itu, baginda bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba yang beriman jika akan terputus dari kehidupan dunia menuju ke alam akhirat maka akan turun kepadanya para Malaikat dari langit yang berwajah putih, seolah-olah wajah mereka itu matahari, dengan membawa salah satu dari kafan Syurga dan salah satu wewangian Syurga, sehingga mereka duduk dengan jarak sejauh pandangan. Selanjutnya, Malaikat Maut mendatanginya sehingga duduk di dekat kepalanya seraya berkata: “Wahai jiwa yang baik (di dalam sebuah riwayat disebutkan : Jiwa yang tenang), keluarlah menuju kepada ampunan dari Allah dan keridhaan-Nya”.
Baginda mengatakan : Maka keluarlah jiwa itu menetes seperti tetesan dari mulut bejana, lalu dia mengambilnya. (Dan dalam sebuah riwayat disebutkan : Sehingga apabila ruhnya keluar, maka setiap Malaikat di antara langit dan bumi memohonkan rahmat untuknya, juga setiap Malaikat yang ada di langit. Lalu dibukakan baginya pintu-pintu langit. Tidak satu pun penghuni pintu itu melainkan mereka berdoa kepada Allah agar ruhnya dinaikkan melalui mereka). Dan jika mereka sudah mengambilnya, maka mereka tidak akan membiarkannya di tangannya sekejap mata pun sehingga mereka mengambilnya dan segera membungkusnya di dalam kafan tersebut dan juga dalam baluran wewangian tadi.(Dan demikianlah firman Allah Ta’ala: “Ia diwafatkan oleh Malaikat-Malaikat Kami, dan Malaikat-Malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.”(Al-An’am : 61).

Dan darinya keluar aroma yang sangat wangi, lebih wangi dari minyak kasturi yang terdapat di muka bumi.”Kemudian ruhnya itu dibawa naik. Di mana mereka tidak berjalan melewati –yakni, sekumpulan Malaikat melainkan mereka mengatakan: “Ruh siapa yang wangi ini?” Mereka menjawab : ‘Fulan bin Fulan’- dengan sebutan nama yang paling baik yang dengannya dulu di dunia mereka dipanggil. Hingga akhirnya mereka sampai di langit dunia. Selanjutnya, para Malaikat itu minta dibukakan pintu untuknya. Lalu dibukakan pintu bagi mereka. Maka di setiap langit, dia diiringi oleh para Malaikat yang didekatkan, sampai ke langit berikutnya, hingga akhirnya sampai di langit ke tujuh. Kemudian Allah Azza wa Jalla berfirman: “Tuliskan kitab catatan hamba-Ku di ‘Illiyyiin. “Tahukah kamu apakah ‘Illiyyiin itu?(Iaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh Malaikat-Malaikat yang didekatkan(kepada Allah).”. Maka dituliskan kitabnya di ‘Illiyyiin. Kemudian dikatakan : “Kembalikanlah ia ke bumi, kerana sesungguhnya (Aku telah menjanjikan kepada mereka bahawa darinya Aku telah menciptakan mereka dan kepadanya Aku akan mengembalikan mereka, serta darinya Aku akan keluarkan mereka pada kesempatan yang lain.”

Dikatakan lebih lanjut: “Maka (dikembalikan lagi ke bumi, dan ) ruhnya pun dikembalikan ke jasadnya. (Baginda mengatakan: “Sesungguhnya dia mendengar suara sandal sahabat-sahabatnya jika mereka pulang meninggalkan dirinya”). Kemudian dia didatangi oleh dua Malaikat (yang kasar lagi keras), (lalu keduanya menggertaknya dan) mendudukkannya seraya berkata kepadanya: “Siapa Rabbmu?” Dia menjawab : “Rabb-ku adalah Allah”. “Apa agamamu?”.Tanya kedua Malaikat itu. Dia menjawab: “Islam agamaku”. Keduanya pun bertanya: “Siapakah orang ini yang telah diutus ke tengah-tengah kalian?”. Dia menjawab: “Dia adalah Rasulullah SAW”. Lebih lanjut, keduanya bertanya: “Lalu apa amalmu?”.Dia menjawab: “Aku telah membaca Kitab Allah, aku juga beriman kepada-Nya serta membenarkan-Nya”. Maka Malaikat itu menggertak seraya bertanya: “Siapa Rabb-mu, apa agama-mu, dan siapa Nabi-mu?”Yang demikian itu merupakan ujian terakhir yang diberikan kepada orang mukmin. Dan itu berlangsung ketika Allah Azza wa Jalla berfirman: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia”(Ibrahim : 27). Maka dia pun menjawab: “Allah Rabb-ku, Islam agama-ku, Muhammad SAW Nabi-ku”. Kemudian ada penyeru yang berseru di langit: “Hamba-Ku benar, hamparkan permadani dari Syurga untuknya, pakaikanlah pakaian dari Syurga kepadanya, serta bukakanlah pintu untuknya menuju ke Syurga.”

Lebih lanjut, perawi menceritakan : “Kemudian dia didatangi wewangian dari Syurga dan dilapangkan pula kuburan untuknya sejauh jarak pandang matanya.”. Dia juga menceritakan : “Dan dia didatangi (dalam sebuah riwayat disebutkan : Yang diserupakan dalam bentuk) seorang laki-laki yang berpakaian bagus dan mempunyai bau yang sangat wangi. Lalu orang itu berkata : “Sampaikan berita gembira akan datangnya apa yang membuatmu bahagia. (Terimalah khabar gembira berupa keredhaan dari Allah dan Syurga-Syurga yang di dalamnya terdapat kenikmatan yang abadi). Inilah harimu yang dulu pernah dijanjikan kepadamu”. Selanjutnya dia berkata kepada orang itu : “ Dan mudah-mudahan engkau diberikan khabar gembira dalam bentuk kebaikan. Siapakah engkau ini? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan membawa kebaikan”. Maka orang itu berkata : “Aku ini adalah amal salihmu.(Demi Allah, aku tidak mengetahui dirimu melainkan engkau dengan cepat berusaha berbuat taat kepada Allah)”.Kemudian dikatakan : “Inilah kedudukanmu, jika engkau mendurhakai Allah. Kemudian dengannya Allah menggantinya dengan yang ini.” Dan ketika dia melihat apa yang terdapat di dalam Syurga, maka dia pun berkata : “Wahai Rabb-ku, segerakanlah hari Kiamat agar aku bisa kembali kepada keluarga dan hartaku.”(Lalu dikatakan kepadanya: “Tetaplah di tempat”)


Lebih lanjut, Rasulullah SAW bersabda : “Dan sesungguhnya seorang hamba kafir (dalam sebuah riwayat disebutkan : Orang yang berbuat keji) jika akan berpisah dari kehidupan dunia menuju ke alam akhirat, maka akan turun malaikat-malaikat yang (ksar lagi seram) dengan wajah yang berwarna hitam dengan membawa kain bulu yang kasar (terbuat dari api) dari langit. Lalu mereka duduk di dekatnya dalam jarak sejauh pandangan mata. Kemudian Malakul Maut mendatanginya sehingga duduk di dekat kepalanya. Selanjutnya Malaikat itu berkata : “Wahai jiwa yang busuk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan dari Allah”. Rasulullah saw bersabda : “Maka ruh yang ada di dalam jasadnya itu berpisah dan dicabut seperti dicabutnya tusukan daging (yang banyak geriginya) dari bulu-bulu yang basah. (Bersamaan dengan itu, maka terputus pula urat dan saraf-sarafnya). (Sehingga setiap malaikat yang ada di antara langit dan bumi melaknatnya, juga setiap malaikat yang ada di langit dan ditutup semua pintu langit. Dan tidak ada satu penghuni pintu melainkan mereka berdoa kepada Allah swt agar ruhnya tidak dinaikkan melalui mereka.) Lalu Malakul Maut mengambilnya dan jika sudah mengambilnya, maka mereka tidak akan membiarkannya berada di tangannya sekejap mata pun sehingga mereka menempatkannya di dalam kain kasar tersebut. Lalu darinya keluar bau yang sangat busuk, lebih busuk dari bau bangkai yang terdapat di muka bumi ini.Kemudian mereka membawanya naik dan mereka tidak melewati sekumpulan malaikat melainkan para malaikat itu bertanya : “Ruh siapa yang sangat buruk ini?”. Mereka pun menjawab : “Fulan bin Fulan – dengan sebutan nama yang paling buruk yang pernah diberikan di dunia ini. Hingga akhirnya sampai di langit dunia, lalu meminta agar dibukakan pintu untuknya, maka tidak akan dibukakan pintu untuknya.” Kemudian Rasulullah saw membaca : “Sekali-kali tidak dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk Syurga, hingga unta masuk ke lubang jarum”.(Al-A’raaf: 40). Kemudian Allah swt berfirman : “Tuliskanlah kitabnya berada di Sijjin di lapisan tanah paling bawah. (Kemudian dikatakan : Kembalikan hamba-Ku itu ke bumi, kerana sesungguhnya Aku menjanjikan kepada mereka bahawa Aku telah menciptakan mereka darinya (tanah), kepadanya Aku akan kembalikan, dan darinya pula Aku akan keluarkan mereka pada kesempatan yang lain.”

Kemudian ruhnya dilemparkan (dari langit) sekali lemparan (sehingga mengenai jasadnya). Setelah itu, baginda membaca ayat : “Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah swt, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”(Al-Hajj : 31).

Selanjutnya, ruhnya dikembalikan lagi ke jasadnya. (Beliau mengatakan : “Sesungguhnya dia mendengar suara sandal sahabat-sahabatnya jika mereka pulang meninggalkan dirinya.”). Kemudian dia didatangi oleh dua Malaikat (yang kasar lagi keras), (lalu keduanya menggertaknya dan ) mendudukkannya seraya berkata kepadanya: “Siapa Rabb-mu?” (Dia menjawab : ‘”E…..e…tidak tahu.” Kedua malaikat itu bertanya lagi : “Apa agama-mu?”. Dia menjawab : “E…e…tidak tahu”.) “Lalu bagaimana menurutmu, siapakah orang yang telah diutus kepada kalian?”, tanya keduanya. Dan dikatakan : “Muhammad”.Lalu dia menjawab : “E…..e…tidak tahu. (Aku mendengar orang-orang mengatakan demikian.”Baginda bercerita, lalu dikatakan. “Kamu tidak tahu dan tidak juga mahu membaca”). Selanjutnya ada penyeru yang berseru dari langit : “Dia itu bohong. Oleh kerana itu, hamparkanlah untuknya alas dari Neraka, bukakan juga untuknya pintu menuju Neraka. Maka dia pun didatangi panas dan racunnya. Dan disempitkan pula baginya kuburannya sehingga semua tulang-tulangnya remuk. Setelah itu, dia didatangi ( dalam sebuah riwayat : diserupakan untuknya) seseorang yang berwajah sangat buruk, berpakaian jelek, lagi berbau busuk. Lalu orang itu berkata : “Terimalah berita yang akan membuatmu sengsara. Inilah hari yang dulu pernah dijanjikan kepadamu.” Maka dia menjawab : (“Dan kamu sendiri, semoga Allah memberimu berita keburukan,) siapa kamu ini? Wajahmu seperti wajah yang dating dengan membawa keburukan.” Dia menjawab : “Aku adalah amal perbuatan burukmu. (Demi Allah, aku tidak mengetahuimu melainkan engkau benar-benar sangat lamban untuk mentaati Allah dan justeru sangat cepat untuk mendurhakai-Nya).( Semoga Allah membalas keburukan kepadamu”.

Kemudian ditetapkan baginya kebutaan, ketulian dan kebisuan, sedangkan di tangannya terdapat batang besi yang jika dipukulkan ke gunung nescaya gunung itu akan menjadi debu. Kemudian Malaikat memukulnya sekali pukulan sehingga dia benar-benar menjadi debu. Lalu Allah mengembalikannya seperti semula. Lalu dia dipukul sekali pukulan sehingga dia berteriak keras yang didengar oleh segala sesuatu kecuali jin dan manusia. Selanjutnya, dibukakan baginya pintu dari Neraka serta dihamparkan pula untuknya lantai dari Neraka.)” Maka dia berkata : “Wahai Rabb-ku, janganlah Engkau adakan Kiamat.”



[H/R Ahmad, Abu Daud, Al-Nasa’i, Ibnu Majah, Al-Hakim, at-Thayalisi dan lain-lain. Takhrij terperinci sila rujuk Ahkam al-Janaiz wa Bida’uha li Al-Albani pada bab : Pemakaman Dan Hal-Hal Yang Berkenaan Dengannya]

Saturday, June 30, 2007

100 Ulama Agung Sepanjang Zaman

Muhammad bin Ishaq Ats- Tsaqafi mengabarkan kepada kami, dia berkata : Abdul A'la bin Hammad menceritakan kepada kami, dia berkata : Abdullah bin Daud Al Khuraibi menceritakan kepada kami, dia berkata : Aku pernah mendengar Ashim bin Raja' bin Haywah menceritakan dari Daud bin Jamil, dari Katsir bin Qais, dia berkata : Aku pernah duduk bersama Abu Darda' di masjid Damaskus. Lalu ada seseorang yang mendatanginya seraya berkata : "Wahai Abu Darda'! Sesungguhnya aku datang dari Madinah untuk(menanyakan) suatu hadith yang sampai kepadaku bahawa engkau menceritakannya dari Rasulullah SAW".

Abu Darda' bertanya : "Apakah kau datang kerana suatu keperluan, apakah kau datang untuk urusan perdagangan ataukah kau datang kerana hadith ini? " Orang itu menjawab : "Ya".

Abu Darda' berkata : "Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : "Siapa yang menempuh suatu perjalanan untuk menuntut ilmu, nescaya dimudahkan Allah SWT baginya jalan ke syurga dan para malaikat akan merendahkan sayapnya kerana redha pada penuntut ilmu, dan sesungguhnya orang yang berilmu itu dimintakan ampunan oleh (penghuni) yang berada di langit dan di bumi sampai ikan besar di dalam air. Keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan di malam purnama atas seluruh bintang, sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar atau pun dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu, maka siapa yang mendapatkannya maka ia telah mendapatkan bahagian yang banyak" (H/R Ibnu Hibban, no. 88, dengan adanya mutaba'ah hadith ini dinilai hasan oleh Syeikh Syua'ib Al-Arna'uth dalam semakannya ke atas Sahih Ibnu Hibban, juga dinilai hasan oleh Syeikh Al-Albani dalam Sahih at-Targhib wa at-Tarhib, hadith no.70)

Ibnu Hibban berkata : "Di dalam hadith ini terdapat penjelasan yang sangat jelas bahawa ulama yang memiliki keutamaan yang kami singgung adalah mereka yang mengajarkan ilmu Nabi SAW saja, bukan yang mengajarkan ilmu-ilmu lain. Bukankah Nabi SAW bersabda : "Ulama adalah pewaris para nabi," dan para nabi tidak mewariskan apa pun selain ilmu dan ilmu Nabi kita SAW adalah sunnahnya. Siapa pun yang tidak mengetahui sunnah bukanlah pewaris para nabi."

Berikut adalah seratus orang ulama yang nama-nama mereka tertulis dengan tinta emas dalam lipatan sejarah. Mereka telah meninggalkan ribuan khazanah berharga yang telah memenuhi perbendaharaan ilmu Islam. Tidak ada perpustakaan dunia kecuali haruman keilmuan mereka tercium di dalamnya. Mereka menjadi penggerak kepada keagungan tamadun sepanjang zaman. Kerana itu ana himpunkan nama-nama mereka bermula dari generasi Tabi'in sehinggalah ke zaman ini. Semoga ianya bermanfaat.


1. Sai'd bin al-Musayyab( tahun wafat 90 H)

2. 'Urwah bin Zubair (w. 93 H)

3. Ibrahim al-Nakha'i ( w. 96 H)

4. Thawus bin Kaisan( w.100 H)

5. 'Umar bin Abdul Aziz( w. 101 H)

6. Mujahid bin Jabr( w. 102 H)

7. Asy-Sya’bi 'Amir b. Syarahil( w. 103 H)

8. Al-Dhahhak b. Muzahim( w. 105 H)

9. 'Ikrimah maula Ibnu Abbas( w. 105 H)

10. Muhammad b. Sirin( w. 110 H)

11. Al-Hasan al-Basri( w. 110 H)

12. 'Atha' b. Abi Rabah( w. 117 H)

13. Qatadah b. Di'amah al-Sadusi( w. 117 H)

14. Nafi' maula Ibnu 'Umar( w. 117 H)

15. Muhammad b. Syihab az-Zuhri( w. 123 H)

16. Al-Nu'man b. Tsabit - Abu Hanifah( w. 150 H)

17. 'Abd al-Rahman b. 'Amr al-Auza'i( w. 158 H)

18. Syu'bah b. al-Hajjaj al-Azdi( w. 160 H)

19. Sufyan b. Sa'id al-Tsaury( w. 161 H)

20. Al-Laits b. Sa'd al-Fahmi( w. 175 H)

21. Malik b. Anas al-Ashbahi al-Madani( w. 179 H)

22. 'Abdullah b. al-Mubarak( w. 181 H)

23. Fudhail b. Iyadh( w. 187 H)

24. Abd al-Rahman b. Mahdi( w. 198 H)

25. Yahya Al-Qaththan( w. 198 H)

26. Sufyan b. 'Uyainah( w. 198 H)

27. Muhammad b. Idris asy-Syafi'i( w. 204 H)

28. 'Abd al-Razzaq( w. 211 H)

29. Yahya b. Ma'in( w. 233 H)

30. 'Ali al-Madini(w. 234 H)

31. Ibnu Abi Syaibah( w. 235 H)

32. Ishaq b. Rahawaih( w. 238 H)

33. Ahmad b. Hanbal( w. 241 H)

34. Ad-Darimi( w. 255 H)

35. Muhammad b. Ismail al-Bukhari( w. 256 H)

36. Muslim b. Hajjaj( w. 261 H)

37. Ibnu Majah( w. 273 H)

38. Abu Daud al-Sijistani( w. 275 H)

39. Abu Hatim ar-Razi( w. 277 H)

40. At-Tirmidzi( w. 279 H)

41. Al-Bazzar( w. 292 H)

42. An-Nasa'i( w. 303 H)

43. Abu Ya'la al-Mushaili( w. 307 H)

44. Ibnu Jarir ath-Thabari( w. 310 H)

45. Ibnu Khuzaimah( w. 311 H)

46. Abu Ja'afar ath-Thahawi( w. 321 H)

47. Abu Hasan Al-'Asy'ari( w. 324 H)

48. Ibnu Abi Hatim ar-Razi( w. 327 H)

49. Ibnu Hibban al-Busti( w. 354 H)

50. Ath-Thabarani( w. 360 H)

51. Ad-Daraquthni( w. 385 H)

52. Al-Khaththabi( w. 388 H)

53. Al-Hakim( w. 405 H)

54. Abu Nua'im al-Asbahani( w. 430 H)

55. Ibnu Hazm al-Andalusi( w. 456 H)

56. Al-Baihaqi( w. 458 H)

57. Al-Khatib al-Baghdadi( w. 463 H)

58. Ibnu 'Abdil Bar( w. 463 H)

59. Abu Hamid al-Ghazali( w. 505 H)

60. Al-Baghawi( w. 516 H)

61. Al-Qadhi Abu Bakr Ibnu Al 'Arabi( w. 543 H)

62. Al-Qadhi Iyadh( w. 544 H)

63. Abd al-Qadir al-Jailani( w. 562 H)

64. Ibnu Rusyd( w. 595 H)

65. Ibnu Jauzi al-Baghdadi( w. 597 H)

66. Ibnu al-Athir( w. 606 H)

67. Ibnu Qudamah al-Maqdisi( w. 620 H)

68. Ibnu Shalah( w. 643 H)

69. Al-Mundziri( w. 656 H)

70. Izzudin b. Abd al-Salam( w. 660 H)

71. Abu Syamah( w. 665 H)

72. Al-Qurthubi( w. 671 H)

73. An-Nawawi( w. 676 H)

74. Ibnu Daqiq al-E'id( w. 702 H)

75. Sheikh al-Islam Ibnu Taimiyyah al-Harani( w. 728 H)

76. Al-Mizzi( w. 742 H)

77. Az-Dzahabi( w. 748 H)

78. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah( w. 751 H)

79. Ibnu Kathir( w. 774 H)

80. Asy-Syatibi( w. 790 H)

81. Ibnu Rajab al-Hanbali( w. 795 H)

82. Al-'Iraqi( w. 806 H)

83. 'Ali b. Abu Bakr al-Haithami( w. 807 H)

84. Al-Hafiz Ibnu Hajar al-'Asqalani( w. 852 H)

85. As-Sakhawi( w. 902 H)

86. As-Suyuthi( w. 911 H)

87. Syah Waliyullah ad-Dahlawi( w. 1176 H)

88. Ash-Shan'ani( w. 1182 H)

89. Muhammad b. Abd al-Wahab( w. 1206 H)

90. Asy-Syaukani( w. 1250 H)

91. Siddiq Hasan Khan( w. 1307 H)

92. Syams al-Haq al-'Azhim al-Abadi( w. 1329 H)

93. Muhammad b. Abd al-Rahman Al-Mubarakfuri( w. 1353 H)

94. Ahmad Muhammad Syakir( w. 1377 H)

95. Muhammad Amin al-Syinqithi( w. 1393 H)

96. Abd al-Aziz b. Baz( w. 1420 H)

97. Muhammad Nasir ad-Din Al-Albani( w. 1420 H)

98. Muhammad b. Shalih al-'Utsaimin( w. 1421 H)

99. Syua'ib al-Arna'uth (hafizahullah)

100. Yusuf al-Qaradhawi(hafizahullah)

Barangkali ada yang berkata bahawa masih banyak nama-nama lain selain daripada mereka, yang setara dari sudut keagungan ilmu atau bahkan mungkin juga melebihi mereka dari beberapa sudut pandang yang lain.


Untuk menanggapi persoalan ini ana katakan sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Al-Bukhari : " Dalam kitabku ini aku hanya menulis hadith-hadith yang sahih saja. Namun ada juga hadith-hadith sahih yang lain yang tidak kumasukkan dalam kitab ini. Hal itu agar kitab ini tidak terlalu panjang"


Atau sebagaimana nukil Al-Isma'ili bahawa Al-Bukhari berkata : "Hadith-hadith sahih yang tidak aku masukkan dalam kitabku ini jumlahnya lebih banyak"(Ruj : Dirasat fi al-Hadith al-Nabawi wa Tarikh Tadwinih li Prof. Dr. M.M. Azami / Edisi terjemahan dengan judul : Hadis Nabawi Dan Sejarah Kodifikasinya, hlm. 647-648)


Akhirul qalam, mudah-mudahan kita diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk menelusuri jejak mereka, menyelami lautan keilmuan mereka dan selalu menghormati mereka.




Sabda Nabi SAW :"Bukan termasuk umatku orang yang tidak memuliakan orang dewasa kami, menyayangi anak kecil kami dan menghormati ulama kami" (H/R Ahmad – dinilai hasan oleh Syeikh Al-Albani dalam Sahih at-Targhib wa at-Tarhib, hadith no. 101)



"Ya Allah, Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima."(H/R Ibnu Majah)

Berkata Al-Hafiz Az-Dzahabi : "Kita memohon daripada Allah ilmu yang bermanfaat. Tahukah anda apa itu ilmu yang bermanfaat? Ia apa yg dinyatakan al-Quran dan ditafsirkannya oleh Rasulullah s.a.w. secara perkataan dan perbuatan." (ruj : Siyar 'Alam al-Nubala' li Az-Dzahabi)


Al-'Allamah Al-Muhaddith Syeikh Muhammad Nasir ad-Din Al-Albani (rhm) - wafat 1420 H