Wednesday, April 1, 2009

Syarh Tsalatsatul Ushul

Kitab 'aqidah yang paling agung tentulah Kitabullah..Alangkah baiknya kiranya motto " Tidaklah berlalu suatu hari kecuali Kitab Allah dibaca padanya" berjaya diterapkan di dalam diri setiap individu muslim...

Tadabbur Al-Qur'an walaupun dari pintu mana saja datangnya akhirnya akan sampai kepada satu kesimpulan mutlak..."Sembahlah Allah saja...."


Kemudian kitab-kitab aqidah ditulis sebagai huraian dan hamparan perbahasan..Barangkali kitab paling awal yang sesuai sebagai permulaan selepas mulazamah dengan Kitabullah ialah Syarh Tsalatsatul Ushul li Ibnu Utsaimin. Di dalamnya dibahas berkenaan 3 soalan penting. Siapa Rabbmu? Apa Agamamu? Siapa Nabimu?
Kitab ini membahaskan 3 persoalan ushul yang paling penting yang wajib diketahui oleh setiap muslim dengan kefahaman yang benar. Tiga Ushul inilah yang merupakan 3 soalan awal yang ditanya di alam barzakh sebagaimana hadith yang panjang dari riwayat Al-Barra' bin Azib. Al-Imam Al-Albani (rhm)memaparkan hadith ini dalam bentuk yang sangat lengkap dalam kitabnya yang penuh manfaat : Ahkam al-Janaiz wa Bida'uha.(Hadith ini telah dipaparkan dengan lengkap pada artikel berjudul : 3 Soalan- Bahagia atau Sengsara). Kejayaan atau kegagalan berdepan hal ini akan menentukan pintu manakah yang bakal dibuka....Syurga atau Neraka? Pengakuan, keredhaan dan kepasrahan ke atas 3 ushul inilah juga menjadi zikir yang dianjurkan untuk dibaca pagi dan petang....


Jelas sekali kitab ini perlu dipilih sebagai kitab pertama yang perlu ditela'ah.Barangkali kerana kepentingan memahami 3 ushul ini secara mendalamlah menjadi sebab Al-Imam Al-Nasa'i meletakkan zikir yang menyebut 3 perkara ini (Aku redha Allah swt Rabb-ku, Islam agama-ku dan Nabi Muhammad SAW Nabi-ku) sebagai zikir-zikir yang awal di dalam kitab beliau Amal al-Yaum wa al-Lailah. Zikir ini perlu dibaca pagi dan petang.....


Edisi terbitan Al-Qowam merupakan antara edisi terjemahan yang baik.

"Buku Syarh Tsalatsatul Ushul ini merupakan buku induk yang wajib diketahui oleh setiap peribadi muslim, agar ia memiliki pemahaman yang sahih tentang dasar-dasar pokok agamanya.

Setiap muslim wajib mengenal Allah, Rasul dan Dinul Islam, lalu mengamalkan dan mendakwahkan ilmunya, serta bersabar terhadap pelbagai gangguan yang muncul di dalamnya. Ilmu tentang Allah, Rasul dan Dinul Islam adalah ilmu-ilmu pokok. Itulah yang akan ditanyakan oleh Malaikat kubur kepada setiap manusia, saat kelak ia memasuki alam kubur. Kerana pentingnya ketiga ilmu ini, maka ia dikenal dengan sebutan Al-Ushul at-Tsalatsah atau Tsalatsatul Ushul yang ertinya "Tiga(ilmu) Pokok"

Buku ini berisi matan dan terjemahan kitab Tsalatsatul Ushul karya Syeikhul Islam Muhammad bin "Abdul Wahhab (rhm). Juga dilengkapi syarah kitab tersebut yang ditulis oleh Syeikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin(rhm). Insya-Allah, di dalam buku ini anda akan mendapatkan ulasan memadai yang akan membantu anda untuk memahami ketiga ilmu tersebut."
(Penerbit Al-Qowam – sebagaimana tertulis di belakang terjemahan kitab Syarah Tsalatsatul Ushul)



Edisi yang disyarah oleh tiga ulama dalam satu buku [Syeikh Abd al Aziz bin Abdullah bin Baz - Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin - Syeikh Shalih Alu Syeikh]

Monday, February 16, 2009

3 Soalan : Bahagia atau Sengsara?

Perkuburan Al-Baqi' - Madinah Al-Munawwarah

Dari Al-Barra’ bin ‘Azib katanya:

“Kami pernah pergi bersama Nabi SAW mengiringi jenazah salah seorang dari kaum Anshar. Lalu kami sampai di kuburan. Dan setelah jenazahnya dimasukkan ke liang lahad, Rasulullah SAW duduk (dengan menghadap kiblat) dan kami pun ikut duduk di sekeliling baginda. Seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Sedang di tangan baginda terdapat tongkat yang baginda hentakkan ke tanah.(Kemudian baginda melihat ke langit dan juga ke bumi. Baginda juga mengangkat dan menurunkan pandangannya sebanyak tiga kali). Selanjutnya baginda bersabda : “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari azab kubur” sebanyak dua atau tiga kali.(Kemudian baginda berdoa : “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur)”(tiga kali). Dan setelah itu, baginda bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba yang beriman jika akan terputus dari kehidupan dunia menuju ke alam akhirat maka akan turun kepadanya para Malaikat dari langit yang berwajah putih, seolah-olah wajah mereka itu matahari, dengan membawa salah satu dari kafan Syurga dan salah satu wewangian Syurga, sehingga mereka duduk dengan jarak sejauh pandangan. Selanjutnya, Malaikat Maut mendatanginya sehingga duduk di dekat kepalanya seraya berkata: “Wahai jiwa yang baik (di dalam sebuah riwayat disebutkan : Jiwa yang tenang), keluarlah menuju kepada ampunan dari Allah dan keridhaan-Nya”.
Baginda mengatakan : Maka keluarlah jiwa itu menetes seperti tetesan dari mulut bejana, lalu dia mengambilnya. (Dan dalam sebuah riwayat disebutkan : Sehingga apabila ruhnya keluar, maka setiap Malaikat di antara langit dan bumi memohonkan rahmat untuknya, juga setiap Malaikat yang ada di langit. Lalu dibukakan baginya pintu-pintu langit. Tidak satu pun penghuni pintu itu melainkan mereka berdoa kepada Allah agar ruhnya dinaikkan melalui mereka). Dan jika mereka sudah mengambilnya, maka mereka tidak akan membiarkannya di tangannya sekejap mata pun sehingga mereka mengambilnya dan segera membungkusnya di dalam kafan tersebut dan juga dalam baluran wewangian tadi.(Dan demikianlah firman Allah Ta’ala: “Ia diwafatkan oleh Malaikat-Malaikat Kami, dan Malaikat-Malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.”(Al-An’am : 61).

Dan darinya keluar aroma yang sangat wangi, lebih wangi dari minyak kasturi yang terdapat di muka bumi.”Kemudian ruhnya itu dibawa naik. Di mana mereka tidak berjalan melewati –yakni, sekumpulan Malaikat melainkan mereka mengatakan: “Ruh siapa yang wangi ini?” Mereka menjawab : ‘Fulan bin Fulan’- dengan sebutan nama yang paling baik yang dengannya dulu di dunia mereka dipanggil. Hingga akhirnya mereka sampai di langit dunia. Selanjutnya, para Malaikat itu minta dibukakan pintu untuknya. Lalu dibukakan pintu bagi mereka. Maka di setiap langit, dia diiringi oleh para Malaikat yang didekatkan, sampai ke langit berikutnya, hingga akhirnya sampai di langit ke tujuh. Kemudian Allah Azza wa Jalla berfirman: “Tuliskan kitab catatan hamba-Ku di ‘Illiyyiin. “Tahukah kamu apakah ‘Illiyyiin itu?(Iaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh Malaikat-Malaikat yang didekatkan(kepada Allah).”. Maka dituliskan kitabnya di ‘Illiyyiin. Kemudian dikatakan : “Kembalikanlah ia ke bumi, kerana sesungguhnya (Aku telah menjanjikan kepada mereka bahawa darinya Aku telah menciptakan mereka dan kepadanya Aku akan mengembalikan mereka, serta darinya Aku akan keluarkan mereka pada kesempatan yang lain.”

Dikatakan lebih lanjut: “Maka (dikembalikan lagi ke bumi, dan ) ruhnya pun dikembalikan ke jasadnya. (Baginda mengatakan: “Sesungguhnya dia mendengar suara sandal sahabat-sahabatnya jika mereka pulang meninggalkan dirinya”). Kemudian dia didatangi oleh dua Malaikat (yang kasar lagi keras), (lalu keduanya menggertaknya dan) mendudukkannya seraya berkata kepadanya: “Siapa Rabbmu?” Dia menjawab : “Rabb-ku adalah Allah”. “Apa agamamu?”.Tanya kedua Malaikat itu. Dia menjawab: “Islam agamaku”. Keduanya pun bertanya: “Siapakah orang ini yang telah diutus ke tengah-tengah kalian?”. Dia menjawab: “Dia adalah Rasulullah SAW”. Lebih lanjut, keduanya bertanya: “Lalu apa amalmu?”.Dia menjawab: “Aku telah membaca Kitab Allah, aku juga beriman kepada-Nya serta membenarkan-Nya”. Maka Malaikat itu menggertak seraya bertanya: “Siapa Rabb-mu, apa agama-mu, dan siapa Nabi-mu?”Yang demikian itu merupakan ujian terakhir yang diberikan kepada orang mukmin. Dan itu berlangsung ketika Allah Azza wa Jalla berfirman: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia”(Ibrahim : 27). Maka dia pun menjawab: “Allah Rabb-ku, Islam agama-ku, Muhammad SAW Nabi-ku”. Kemudian ada penyeru yang berseru di langit: “Hamba-Ku benar, hamparkan permadani dari Syurga untuknya, pakaikanlah pakaian dari Syurga kepadanya, serta bukakanlah pintu untuknya menuju ke Syurga.”

Lebih lanjut, perawi menceritakan : “Kemudian dia didatangi wewangian dari Syurga dan dilapangkan pula kuburan untuknya sejauh jarak pandang matanya.”. Dia juga menceritakan : “Dan dia didatangi (dalam sebuah riwayat disebutkan : Yang diserupakan dalam bentuk) seorang laki-laki yang berpakaian bagus dan mempunyai bau yang sangat wangi. Lalu orang itu berkata : “Sampaikan berita gembira akan datangnya apa yang membuatmu bahagia. (Terimalah khabar gembira berupa keredhaan dari Allah dan Syurga-Syurga yang di dalamnya terdapat kenikmatan yang abadi). Inilah harimu yang dulu pernah dijanjikan kepadamu”. Selanjutnya dia berkata kepada orang itu : “ Dan mudah-mudahan engkau diberikan khabar gembira dalam bentuk kebaikan. Siapakah engkau ini? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan membawa kebaikan”. Maka orang itu berkata : “Aku ini adalah amal salihmu.(Demi Allah, aku tidak mengetahui dirimu melainkan engkau dengan cepat berusaha berbuat taat kepada Allah)”.Kemudian dikatakan : “Inilah kedudukanmu, jika engkau mendurhakai Allah. Kemudian dengannya Allah menggantinya dengan yang ini.” Dan ketika dia melihat apa yang terdapat di dalam Syurga, maka dia pun berkata : “Wahai Rabb-ku, segerakanlah hari Kiamat agar aku bisa kembali kepada keluarga dan hartaku.”(Lalu dikatakan kepadanya: “Tetaplah di tempat”)


Lebih lanjut, Rasulullah SAW bersabda : “Dan sesungguhnya seorang hamba kafir (dalam sebuah riwayat disebutkan : Orang yang berbuat keji) jika akan berpisah dari kehidupan dunia menuju ke alam akhirat, maka akan turun malaikat-malaikat yang (ksar lagi seram) dengan wajah yang berwarna hitam dengan membawa kain bulu yang kasar (terbuat dari api) dari langit. Lalu mereka duduk di dekatnya dalam jarak sejauh pandangan mata. Kemudian Malakul Maut mendatanginya sehingga duduk di dekat kepalanya. Selanjutnya Malaikat itu berkata : “Wahai jiwa yang busuk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan dari Allah”. Rasulullah saw bersabda : “Maka ruh yang ada di dalam jasadnya itu berpisah dan dicabut seperti dicabutnya tusukan daging (yang banyak geriginya) dari bulu-bulu yang basah. (Bersamaan dengan itu, maka terputus pula urat dan saraf-sarafnya). (Sehingga setiap malaikat yang ada di antara langit dan bumi melaknatnya, juga setiap malaikat yang ada di langit dan ditutup semua pintu langit. Dan tidak ada satu penghuni pintu melainkan mereka berdoa kepada Allah swt agar ruhnya tidak dinaikkan melalui mereka.) Lalu Malakul Maut mengambilnya dan jika sudah mengambilnya, maka mereka tidak akan membiarkannya berada di tangannya sekejap mata pun sehingga mereka menempatkannya di dalam kain kasar tersebut. Lalu darinya keluar bau yang sangat busuk, lebih busuk dari bau bangkai yang terdapat di muka bumi ini.Kemudian mereka membawanya naik dan mereka tidak melewati sekumpulan malaikat melainkan para malaikat itu bertanya : “Ruh siapa yang sangat buruk ini?”. Mereka pun menjawab : “Fulan bin Fulan – dengan sebutan nama yang paling buruk yang pernah diberikan di dunia ini. Hingga akhirnya sampai di langit dunia, lalu meminta agar dibukakan pintu untuknya, maka tidak akan dibukakan pintu untuknya.” Kemudian Rasulullah saw membaca : “Sekali-kali tidak dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk Syurga, hingga unta masuk ke lubang jarum”.(Al-A’raaf: 40). Kemudian Allah swt berfirman : “Tuliskanlah kitabnya berada di Sijjin di lapisan tanah paling bawah. (Kemudian dikatakan : Kembalikan hamba-Ku itu ke bumi, kerana sesungguhnya Aku menjanjikan kepada mereka bahawa Aku telah menciptakan mereka darinya (tanah), kepadanya Aku akan kembalikan, dan darinya pula Aku akan keluarkan mereka pada kesempatan yang lain.”

Kemudian ruhnya dilemparkan (dari langit) sekali lemparan (sehingga mengenai jasadnya). Setelah itu, baginda membaca ayat : “Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah swt, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”(Al-Hajj : 31).

Selanjutnya, ruhnya dikembalikan lagi ke jasadnya. (Beliau mengatakan : “Sesungguhnya dia mendengar suara sandal sahabat-sahabatnya jika mereka pulang meninggalkan dirinya.”). Kemudian dia didatangi oleh dua Malaikat (yang kasar lagi keras), (lalu keduanya menggertaknya dan ) mendudukkannya seraya berkata kepadanya: “Siapa Rabb-mu?” (Dia menjawab : ‘”E…..e…tidak tahu.” Kedua malaikat itu bertanya lagi : “Apa agama-mu?”. Dia menjawab : “E…e…tidak tahu”.) “Lalu bagaimana menurutmu, siapakah orang yang telah diutus kepada kalian?”, tanya keduanya. Dan dikatakan : “Muhammad”.Lalu dia menjawab : “E…..e…tidak tahu. (Aku mendengar orang-orang mengatakan demikian.”Baginda bercerita, lalu dikatakan. “Kamu tidak tahu dan tidak juga mahu membaca”). Selanjutnya ada penyeru yang berseru dari langit : “Dia itu bohong. Oleh kerana itu, hamparkanlah untuknya alas dari Neraka, bukakan juga untuknya pintu menuju Neraka. Maka dia pun didatangi panas dan racunnya. Dan disempitkan pula baginya kuburannya sehingga semua tulang-tulangnya remuk. Setelah itu, dia didatangi ( dalam sebuah riwayat : diserupakan untuknya) seseorang yang berwajah sangat buruk, berpakaian jelek, lagi berbau busuk. Lalu orang itu berkata : “Terimalah berita yang akan membuatmu sengsara. Inilah hari yang dulu pernah dijanjikan kepadamu.” Maka dia menjawab : (“Dan kamu sendiri, semoga Allah memberimu berita keburukan,) siapa kamu ini? Wajahmu seperti wajah yang dating dengan membawa keburukan.” Dia menjawab : “Aku adalah amal perbuatan burukmu. (Demi Allah, aku tidak mengetahuimu melainkan engkau benar-benar sangat lamban untuk mentaati Allah dan justeru sangat cepat untuk mendurhakai-Nya).( Semoga Allah membalas keburukan kepadamu”.

Kemudian ditetapkan baginya kebutaan, ketulian dan kebisuan, sedangkan di tangannya terdapat batang besi yang jika dipukulkan ke gunung nescaya gunung itu akan menjadi debu. Kemudian Malaikat memukulnya sekali pukulan sehingga dia benar-benar menjadi debu. Lalu Allah mengembalikannya seperti semula. Lalu dia dipukul sekali pukulan sehingga dia berteriak keras yang didengar oleh segala sesuatu kecuali jin dan manusia. Selanjutnya, dibukakan baginya pintu dari Neraka serta dihamparkan pula untuknya lantai dari Neraka.)” Maka dia berkata : “Wahai Rabb-ku, janganlah Engkau adakan Kiamat.”



[H/R Ahmad, Abu Daud, Al-Nasa’i, Ibnu Majah, Al-Hakim, at-Thayalisi dan lain-lain. Takhrij terperinci sila rujuk Ahkam al-Janaiz wa Bida’uha li Al-Albani pada bab : Pemakaman Dan Hal-Hal Yang Berkenaan Dengannya]

Saturday, June 30, 2007

100 Ulama Agung Sepanjang Zaman

Muhammad bin Ishaq Ats- Tsaqafi mengabarkan kepada kami, dia berkata : Abdul A'la bin Hammad menceritakan kepada kami, dia berkata : Abdullah bin Daud Al Khuraibi menceritakan kepada kami, dia berkata : Aku pernah mendengar Ashim bin Raja' bin Haywah menceritakan dari Daud bin Jamil, dari Katsir bin Qais, dia berkata : Aku pernah duduk bersama Abu Darda' di masjid Damaskus. Lalu ada seseorang yang mendatanginya seraya berkata : "Wahai Abu Darda'! Sesungguhnya aku datang dari Madinah untuk(menanyakan) suatu hadith yang sampai kepadaku bahawa engkau menceritakannya dari Rasulullah SAW".

Abu Darda' bertanya : "Apakah kau datang kerana suatu keperluan, apakah kau datang untuk urusan perdagangan ataukah kau datang kerana hadith ini? " Orang itu menjawab : "Ya".

Abu Darda' berkata : "Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda : "Siapa yang menempuh suatu perjalanan untuk menuntut ilmu, nescaya dimudahkan Allah SWT baginya jalan ke syurga dan para malaikat akan merendahkan sayapnya kerana redha pada penuntut ilmu, dan sesungguhnya orang yang berilmu itu dimintakan ampunan oleh (penghuni) yang berada di langit dan di bumi sampai ikan besar di dalam air. Keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan di malam purnama atas seluruh bintang, sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar atau pun dirham. Mereka hanya mewariskan ilmu, maka siapa yang mendapatkannya maka ia telah mendapatkan bahagian yang banyak" (H/R Ibnu Hibban, no. 88, dengan adanya mutaba'ah hadith ini dinilai hasan oleh Syeikh Syua'ib Al-Arna'uth dalam semakannya ke atas Sahih Ibnu Hibban, juga dinilai hasan oleh Syeikh Al-Albani dalam Sahih at-Targhib wa at-Tarhib, hadith no.70)

Ibnu Hibban berkata : "Di dalam hadith ini terdapat penjelasan yang sangat jelas bahawa ulama yang memiliki keutamaan yang kami singgung adalah mereka yang mengajarkan ilmu Nabi SAW saja, bukan yang mengajarkan ilmu-ilmu lain. Bukankah Nabi SAW bersabda : "Ulama adalah pewaris para nabi," dan para nabi tidak mewariskan apa pun selain ilmu dan ilmu Nabi kita SAW adalah sunnahnya. Siapa pun yang tidak mengetahui sunnah bukanlah pewaris para nabi."

Berikut adalah seratus orang ulama yang nama-nama mereka tertulis dengan tinta emas dalam lipatan sejarah. Mereka telah meninggalkan ribuan khazanah berharga yang telah memenuhi perbendaharaan ilmu Islam. Tidak ada perpustakaan dunia kecuali haruman keilmuan mereka tercium di dalamnya. Mereka menjadi penggerak kepada keagungan tamadun sepanjang zaman. Kerana itu ana himpunkan nama-nama mereka bermula dari generasi Tabi'in sehinggalah ke zaman ini. Semoga ianya bermanfaat.


1. Sai'd bin al-Musayyab( tahun wafat 90 H)

2. 'Urwah bin Zubair (w. 93 H)

3. Ibrahim al-Nakha'i ( w. 96 H)

4. Thawus bin Kaisan( w.100 H)

5. 'Umar bin Abdul Aziz( w. 101 H)

6. Mujahid bin Jabr( w. 102 H)

7. Asy-Sya’bi 'Amir b. Syarahil( w. 103 H)

8. Al-Dhahhak b. Muzahim( w. 105 H)

9. 'Ikrimah maula Ibnu Abbas( w. 105 H)

10. Muhammad b. Sirin( w. 110 H)

11. Al-Hasan al-Basri( w. 110 H)

12. 'Atha' b. Abi Rabah( w. 117 H)

13. Qatadah b. Di'amah al-Sadusi( w. 117 H)

14. Nafi' maula Ibnu 'Umar( w. 117 H)

15. Muhammad b. Syihab az-Zuhri( w. 123 H)

16. Al-Nu'man b. Tsabit - Abu Hanifah( w. 150 H)

17. 'Abd al-Rahman b. 'Amr al-Auza'i( w. 158 H)

18. Syu'bah b. al-Hajjaj al-Azdi( w. 160 H)

19. Sufyan b. Sa'id al-Tsaury( w. 161 H)

20. Al-Laits b. Sa'd al-Fahmi( w. 175 H)

21. Malik b. Anas al-Ashbahi al-Madani( w. 179 H)

22. 'Abdullah b. al-Mubarak( w. 181 H)

23. Fudhail b. Iyadh( w. 187 H)

24. Abd al-Rahman b. Mahdi( w. 198 H)

25. Yahya Al-Qaththan( w. 198 H)

26. Sufyan b. 'Uyainah( w. 198 H)

27. Muhammad b. Idris asy-Syafi'i( w. 204 H)

28. 'Abd al-Razzaq( w. 211 H)

29. Yahya b. Ma'in( w. 233 H)

30. 'Ali al-Madini(w. 234 H)

31. Ibnu Abi Syaibah( w. 235 H)

32. Ishaq b. Rahawaih( w. 238 H)

33. Ahmad b. Hanbal( w. 241 H)

34. Ad-Darimi( w. 255 H)

35. Muhammad b. Ismail al-Bukhari( w. 256 H)

36. Muslim b. Hajjaj( w. 261 H)

37. Ibnu Majah( w. 273 H)

38. Abu Daud al-Sijistani( w. 275 H)

39. Abu Hatim ar-Razi( w. 277 H)

40. At-Tirmidzi( w. 279 H)

41. Al-Bazzar( w. 292 H)

42. An-Nasa'i( w. 303 H)

43. Abu Ya'la al-Mushaili( w. 307 H)

44. Ibnu Jarir ath-Thabari( w. 310 H)

45. Ibnu Khuzaimah( w. 311 H)

46. Abu Ja'afar ath-Thahawi( w. 321 H)

47. Abu Hasan Al-'Asy'ari( w. 324 H)

48. Ibnu Abi Hatim ar-Razi( w. 327 H)

49. Ibnu Hibban al-Busti( w. 354 H)

50. Ath-Thabarani( w. 360 H)

51. Ad-Daraquthni( w. 385 H)

52. Al-Khaththabi( w. 388 H)

53. Al-Hakim( w. 405 H)

54. Abu Nua'im al-Asbahani( w. 430 H)

55. Ibnu Hazm al-Andalusi( w. 456 H)

56. Al-Baihaqi( w. 458 H)

57. Al-Khatib al-Baghdadi( w. 463 H)

58. Ibnu 'Abdil Bar( w. 463 H)

59. Abu Hamid al-Ghazali( w. 505 H)

60. Al-Baghawi( w. 516 H)

61. Al-Qadhi Abu Bakr Ibnu Al 'Arabi( w. 543 H)

62. Al-Qadhi Iyadh( w. 544 H)

63. Abd al-Qadir al-Jailani( w. 562 H)

64. Ibnu Rusyd( w. 595 H)

65. Ibnu Jauzi al-Baghdadi( w. 597 H)

66. Ibnu al-Athir( w. 606 H)

67. Ibnu Qudamah al-Maqdisi( w. 620 H)

68. Ibnu Shalah( w. 643 H)

69. Al-Mundziri( w. 656 H)

70. Izzudin b. Abd al-Salam( w. 660 H)

71. Abu Syamah( w. 665 H)

72. Al-Qurthubi( w. 671 H)

73. An-Nawawi( w. 676 H)

74. Ibnu Daqiq al-E'id( w. 702 H)

75. Sheikh al-Islam Ibnu Taimiyyah al-Harani( w. 728 H)

76. Al-Mizzi( w. 742 H)

77. Az-Dzahabi( w. 748 H)

78. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah( w. 751 H)

79. Ibnu Kathir( w. 774 H)

80. Asy-Syatibi( w. 790 H)

81. Ibnu Rajab al-Hanbali( w. 795 H)

82. Al-'Iraqi( w. 806 H)

83. 'Ali b. Abu Bakr al-Haithami( w. 807 H)

84. Al-Hafiz Ibnu Hajar al-'Asqalani( w. 852 H)

85. As-Sakhawi( w. 902 H)

86. As-Suyuthi( w. 911 H)

87. Syah Waliyullah ad-Dahlawi( w. 1176 H)

88. Ash-Shan'ani( w. 1182 H)

89. Muhammad b. Abd al-Wahab( w. 1206 H)

90. Asy-Syaukani( w. 1250 H)

91. Siddiq Hasan Khan( w. 1307 H)

92. Syams al-Haq al-'Azhim al-Abadi( w. 1329 H)

93. Muhammad b. Abd al-Rahman Al-Mubarakfuri( w. 1353 H)

94. Ahmad Muhammad Syakir( w. 1377 H)

95. Muhammad Amin al-Syinqithi( w. 1393 H)

96. Abd al-Aziz b. Baz( w. 1420 H)

97. Muhammad Nasir ad-Din Al-Albani( w. 1420 H)

98. Muhammad b. Shalih al-'Utsaimin( w. 1421 H)

99. Syua'ib al-Arna'uth (hafizahullah)

100. Yusuf al-Qaradhawi(hafizahullah)

Barangkali ada yang berkata bahawa masih banyak nama-nama lain selain daripada mereka, yang setara dari sudut keagungan ilmu atau bahkan mungkin juga melebihi mereka dari beberapa sudut pandang yang lain.


Untuk menanggapi persoalan ini ana katakan sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Imam Al-Bukhari : " Dalam kitabku ini aku hanya menulis hadith-hadith yang sahih saja. Namun ada juga hadith-hadith sahih yang lain yang tidak kumasukkan dalam kitab ini. Hal itu agar kitab ini tidak terlalu panjang"


Atau sebagaimana nukil Al-Isma'ili bahawa Al-Bukhari berkata : "Hadith-hadith sahih yang tidak aku masukkan dalam kitabku ini jumlahnya lebih banyak"(Ruj : Dirasat fi al-Hadith al-Nabawi wa Tarikh Tadwinih li Prof. Dr. M.M. Azami / Edisi terjemahan dengan judul : Hadis Nabawi Dan Sejarah Kodifikasinya, hlm. 647-648)


Akhirul qalam, mudah-mudahan kita diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk menelusuri jejak mereka, menyelami lautan keilmuan mereka dan selalu menghormati mereka.




Sabda Nabi SAW :"Bukan termasuk umatku orang yang tidak memuliakan orang dewasa kami, menyayangi anak kecil kami dan menghormati ulama kami" (H/R Ahmad – dinilai hasan oleh Syeikh Al-Albani dalam Sahih at-Targhib wa at-Tarhib, hadith no. 101)



"Ya Allah, Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima."(H/R Ibnu Majah)

Berkata Al-Hafiz Az-Dzahabi : "Kita memohon daripada Allah ilmu yang bermanfaat. Tahukah anda apa itu ilmu yang bermanfaat? Ia apa yg dinyatakan al-Quran dan ditafsirkannya oleh Rasulullah s.a.w. secara perkataan dan perbuatan." (ruj : Siyar 'Alam al-Nubala' li Az-Dzahabi)


Al-'Allamah Al-Muhaddith Syeikh Muhammad Nasir ad-Din Al-Albani (rhm) - wafat 1420 H


Saturday, April 21, 2007

Surat Kepada Graduan Al-Azhar

Ini adalah surat yang pernah kutulis hampir 2 tahun yang lalu rentetan perbahasan dan perbincanganku dengan seorang sahabat.

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum wrt.

Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk (Nabi) Muhammad SAW, sejelek-jelek perkara adalah yang diada adakan(bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat..(H/R Muslim)

Alhamdulillah ada sedikit kelapangan untuk ana menulis sebagai catatan berkenaan perbincangan beberapa waktu yang lepas.

Perkara pertama adalah berkenaan ‘Aqidah ataupun secara terperinci berkaitan dengan Asma dan Sifat-sifat Allah SWT. Memang sedia diketahui oleh sesiapa sahaja yang mengkaji dengan ‘adil lagi jujur bahawa telah terjadi beragam pendapat dan pandangan dalam persoalan ini semenjak dari dahulu lagi sehingga perbezaan ini melahirkan pelbagai firqah yang dinisbatkan dengan nama-nama tertentu. Dan tercakup di dalamnya ialah perbezaan ‘aqidah Asya’riyah dan ‘aqidah Salaf al-Salih dalam persoalan ini yang kerananya sebilangan umat terpecah belah.

Adalah tidak mungkin ada kaedah yang lebih baik dari kaedah yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi-Nya. Bahkan al-Imam Abu Hasan ‘Ali Al-Asya’ri(lahir 256 H) [yangmana orang-orang yang berbeza pandangan dalam hal Asma wa al-Sifat ini dengan dengan orang-orang yang menisbatkan diri kepada manhaj Salaf menisbatkan diri kepada al Imam al-Mujaddid ini], di marhalah terakhir kehidupannya, ‘aqidahnya dalam persoalan ini adalah di atas manhaj Salaf al-Salih. Untuk ini sila rujuk Tabaqaat al-Syafi’iyyah al-Kubra karya al-Hafiz Ibn Katsir(rhm). Bahkan al Imam Al Juwaini gurunya al-Imam al-Ghazali(w.505 H) yang terkenal sebagai tokoh besar dalam ilmu qalam pun akhirnya mengakui bahawa kaedah ilmu qalam tidak membawa apa-apa kepadanya hingga akhirnya beliau kembali kepada ‘aqidah guru-gurunya yakni teguh di atas manhaj Salaf al-Salih. Inilah antara bukti bahawa tidak ada kaedah yang lebih baik atau lebih tinggi daripada apa yang turun dari langit. Mana-mana kaedah yang direka biarpun dianggap sebagai memiliki pemikiran yang tinggi hakikat sebenarnya adalah bersifat lemah kerana tidak mungkin ada dua kaedah dalam memahami Asma wa al-Sifat yangmana kaedah baru ini menjadi kaedah kedua atau jalan kedua setelah Allah dan Rasul-Nya menunjukki jalan, cara dan kaedah dalam memahaminya. Seandainya kaedah yang direka dengan pemikiran yang tinggi itu akhirnya menghasilkan natijah yang serupa yakni turut mengisthbatkan Sifat-Sifat-Nya sebagaimana Allah dan Rasul-Nya mengithbatkan-Nya atau dalam kata lain hasil akhirnya serupa sebagaimana jalannya para imam kaum muslimin yang terdiri di dalamnya para sahabat, tabi’in dan tabiut’tabii’n maka tidaklah jurang yang wujud menjadi terlalu besar. Namun realitinya kaedah yang memiliki pemikiran yang tinggi ini akhirnya dilihat tidak menghasilkan natijah yang serupa dalam mengimani Asma wa al-Sifat bahkan menafikan sifat-sifat khabariah seperti istiwa, yad, wajh dan lain-lain. Maka dikatakan bahawa kaedah ini bukan sahaja berbeza dengan kaedah Salaf al-Salih bahkan hasil akhirnya membawa kepada penafian sebahagian sifat-sifat-Nya. Bukankah ini semua bertentangan dengan apa yang dibawa Rasul SAW? Sedangkan Allah SWT berfirman : “Dan tidaklah patut bagi seorang mukmin dan mukminah apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan(yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata”(al-Ahzab :36)

Tokoh-tokoh yang terkenal hebat di dalam ilmu qalam seperti Al-Imam Al Juwaini bahkan Al Imam Al-Asya’ri sendiri akhirnya berdiri di atas manhaj Salaf al-Salih dalam mengimani sifat-sifat Allah SWT maka apakah orang-orang yang berada dibawah tingkatan mereka patut terus berpijak di atas ‘aqidah Asya’riyah dan berpaling dari beriman dengan kaedah Salaf al-Salih? Bukankah al Imam Al-Juwaini telah mengabarkan kepada kita kaedah ini tidak membawa apa-apa sedangkan beliau seorang tokoh ilmu qalam yang sangat tinggi keilmuan dan kedudukannya? Lebih jauh dari itu apakah kita terus ingin memilih satu kaedah lain yang natijah akhirnya ialah menafikan sebahagian sifat-sifat Allah SWT?
Adalah sangat tidak bijak bahkan merugikan bila kita berbeza dalam mengimani sifat-sifat Allah SWT dengan caranya Nabi SAW, para sahabat, tabii’n dan para imam kaum muslimin seperti: Al Imam Abu Hanifah, Al-Auzai’, Sufyan at-Tsauri, Malik ibn Anas, Laits Ibn Sa’d, ‘Abdullah ibn Mubarak, Sufyan Ibn ‘Uyainah, Al-Syafi’i,Ahmad bin Hanbal, Ishaq ibn Rahawaih, Abu Hatim al-Razzi, Ibnu Qutaibah, Ibnu Abi ‘Ashim, At-Tirmidzi, Ibnu Jarir at-Thabari, Ibnu Khuzaimah, At-Thahawi, Al-Asya’ri sendiri, Al-Ajurri(pengarang al-Syari’ah), al-Khatthabi(pengarang Maa’lim al-Sunan), Abu Nua’im, Al-Lalikai’, Ibn Abdil Bar, Al-Qadhi Abu Ya’la, al-Khatib al-Baghdadi, Al-Juwaini, al-Baghawi, Syeikh Abdul Qadir Jailani(lihat kitab beliau : Al-Ghunya), ad-Dzahabi, Ibnu Katsir dan lain-lain.

Dan bagi para ulama’ yang berbeza dalam hal ini maka itu adalah ijtihad mereka dan urusannya adalah kembali kepada Allah SWT.

Inilah sahaja tulisan ringkas ana sebagai respon atas perbincangan ilmiah tempoh hari. Ana tidak ada kitab yang dibawa bersama kecuali Tafsir Ibnu Katsir bagi Juzz Amma, maka ana hanya turunkan apa2 yang berupa catitan2 ringkas yang disimpan baik disimpan di dalam helain2 atau yang Allah izinkan kekal dalam ingatan.. Sudah pasti tulisan ini tidak bermanfaat tanpa kajian dari pihak ustaz sendiri [sebagaimana sebuah perbincangan menjadi tidak bermanfaat tanpa kajian yang dilakukan terlebih dahulu bagi topik yang diperbincangkan]. Ana tidak mengharapkan apa2 kecuali pahala dari Allah Azza wa Jalla, mudah-mudahan ana termasuk sebagaimana orang-orang yang sabdakan Nabi SAW di dalam suatu hadith dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh al Imam Muslim bin al Hajjaj. Akhirnya ana turunkan sebahagian catitan2 ana sebagai lampiran perbincangan yakni dari al Imam Abu Isa at-Tirmidzi dan al-Hafiz Ibnu Katsir (rhm). Semoga Allah SWT jadikannya bermanfaat bagi orang-orang yang ‘adil lagi jujur dalam mencari kebenaran di dalam dunia yang penuh fitnah ini.

LAMPIRAN 1

Al Imam Abu Isa At-Tirmidzi berkata di dalam Sunannya :

“Dan sungguh telah berkata tidak seorang daripada Ahl al-Ilm tentang hadith ini dan apa yang seumpamanya daripada riwayat-riwayat tentang al-Sifat dan nuzul Rabb Tabaraka wa Taa’la pada setiap malam ke langit dunia. Mereka berkata riwayat-riwayat seperti ini adalah tsabit dan berimanlah kepada ia dan jangan dibayangkan dan jangan ditanya bentuk, ciri-ciri dan kaifiatnya. Inilah yang telah diriwayatkan daripada Malik dan Sufyan Ibn ‘Uyainah dan ‘Abdullah Ibn Mubarak. Sesungguhnya mereka telah berkata tentang hadith-hadith seperti ini : terimalah ia tanpa mempersoalkan bentuk, ciri-ciri dan kaifiat dan demikianlah pendapat ahl al-Ilm Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah.

Manakala golongan al-Jahmiyyah mereka mengingkari riwayat-riwayat seperti ini sambil berkata ini adalah tasybih. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah menyebut hal ini tidak sekali dalam kitab-Nya seperti Tangan dan Pendengaran dan Penglihatan akan tetapi golongan al-Jahmiyyah telah menakwilkan ayat-ayat ini dan menafsirkannya kepada sesuatu yang berlainan daripada tafsiran ahl al-Ilm. Mereka berkata bahawa sesungguhnya Allah tidak menciptakan Adam dengan Tangan-Nya. Mereka berkata maksud Tangan-Nya di sini ialah Kekuatan-Nya. Padahal berkata Ishaq Ibn Ibrahim: “Sesungguhnya yang dianggap tasybih hanyalah apabila seseorang berkata Tangan sepertimana tanganku, Pendengaran sepertimana pendengaranku atau seumpama pendengaranku. Justeru apabila seseorang berkata Pendengaran sepertimana pendengaranku maka barulah dia dianggap tasybih.

Namun apabila seseorang berkata sebagaimana firman Allah Ta’ala di dalam kitab-Nya : Tangan dan Pendengaran dan Penglihatan tanpa dipersoalkan bentuk, ciri-ciri dan kaifiatnya dan tidak dikatakan seumpama pendengaranku dan tidak juga dikatakan sepertimana pendengaranku maka ini tidak dianggap sebagai tasybih. Malah ia adalah sepertimana firman Allah Ta’ala di dalam kitab-Nya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dia-lah Yang Maha Mendengar Lagi Maha Melihat”(Al-Syura : 11).

[Rujuk : Sunan al-Tirmidzi Tahqeeq Syeikh Ahmad Muhammad Syakir dan rakan-rakan , Dar al-Hadith, Kaherah 1999, Jilid 3 Halaman 33 –Kitab Zakat, Bab tentang keutamaan bersedekah] – dinukil dari buku : Pembongkaran Jenayah Ilmiyyah Buku Salafiyyah Wahabiyyah Satu Penilaian.

[Edisi terjemahan sila rujuk : Sunan at-Tirmidzi terjemahan oleh Moh. Zuhri, Victory Agencie, KL 1993, Jilid 1 Halaman 800-801]

LAMPIRAN 2

Al Hafiz Ibnu Kathir ad-Dimasyqi berkata di dalam kitab tafsirnya :

“Adapun firman Allah Azza wa Jalla yang berbunyi :……”kemudian Dia istiwa di atas ‘Arasy” (Al-A’raaf : 54), maka muncul beragam pandangan yang sangat banyak dan tidak mungkin pada kesempatan ini kami menyebutkannya. Tapi, pandangan yang kami ikuti berkenaan dengan masalah ini adalah pandangan Salaf al-Salih seperti Malik, al-Auzai’, al-Tsauri, al-Laits Ibn Sa’d, al-Syafi’i, Ahmad, Ishaq Ibn Rahawaih dan yang lainnya yang terdiri dari para imam kaum muslimin sejak dahulu mahupun sekarang. Mereka mempunyai pandangan mengambil ayat seperti apa adanya dengan tidak menanyakan bagaimana(takyif), juga tidak menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya(tasybih) serta tidak meniadakan Sifat itu(ta’thil), sedangkan yang terlintas pada fikiran orang-orang musyabbihin adalah dinafikannya dari Allah kerana Allah tidak serupa dengan sesuatu pun dari makhluk-Nya.Tidak ada sesuatu pun yang seperti Dia dan Dia Maha Mendengar Lagi Maha Melihat. Dalam hal ini pendapat orang-orang yang menganggap bahawa jika kita menetapkan sifat-sifat itu bagi Allah bererti kita telah menyerupakan Allah adalah tidak benar, yang benar adalah seperti apa yang diucapkan oleh para imam salaf di antaranya adalah Imam Na’im bin Hammad syaikhnya al-Bukhari, ia berkata : “Barangsiapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya bererti ia kafir. Dan barangsiapa yang mengingkari apa yang Allah sifatkan untuk diri-Nya bererti ia kafir, dan tidak ada tasybih pada apa yang dengannya Allah dan Rasul-Nya mensifati diri-Nya.” Jadi orang yang menetapkan bagi Allah SWT apa yang disebutkan oleh ayat-ayat yang sharih dan hadith-hadith yang sahih sesuai dengan kebesaran Allah dan menafikan dari Allah SWT sifat-sifat kekurangan bererti ia menempuh jalan hidayah”

[Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim 2/22] –dinukil dari : Manhaj ‘Aqidah Al Imam Asy-Syafi’I (rhm) karya Dr. Muhammad Abdul Wahab al-‘Aql hlm 42-43.

Thursday, April 12, 2007

Maqalaat Al-Islamiyyin wa Ikhtilaaf Al-Mushallin

BAB X
ALIRAN MU’TAZILAH

Tempat Tinggal Allah SWT

Para pengikut aliran Mu’tazilah berbeza anggapan tentang hal ini, sebahagian beranggapan bahwa, Allah SWT itu berada di setiap tempat, yang berarti Dia mengatur sesuatu di setiap tempat, sehingga aturan-Nya pun berada di setiap tempat, dan anggapan ini dikemukakan sebahagian besar pengikut aliran Mu’tazilah yang dipelopori Abu al-Hudzail, al-Ja’farah, al-Iskafi dan Muhammad ibn Abdul Wahab al-Juba’i. Sementara sebahagian lainnya beranggapan bahwa, Allah SWT itu tidak berada di setiap tempat, tetapi hanya bertempat dalam diri-Nya sendiri, dan anggapan ini dikemukakan Hisyam al-Fuwathi, Abu Zufar, Abbad ibn Sulaiman dan para pengikut aliran Mu’tazilah lainnya.

Adapun tentang firman Allah SWT : “Allah yang Maha Pemurah itu istawa’ atas ‘Arsy
(QS. Thaha : 5 )

Para pengikut aliran Mu’tazilah menafsirkan kata “Istawa” ini dengan “Istaula” yang artinya berkuasa.

(Rujuk : Maqalaat Al-Islamiyyin wa Ikhtilaaf Al-Mushallin karya Al-Imam Abu Hasan Ismail Al-Asya’ri– Jld 1, ditahqeeq oleh Prof. Dr. Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid/ Edisi terjemahan : Prinsip-prinsip Dasar Aliran Theologi Islam –Jld 1, hlm. 222)
BAB XIX

DOKTRIN-DOKTRIN AHLI HADITH (AHLI SUNNAH)

Para ahli hadith(ahli sunnah) bersepakat : Iman kepada Allah, para malaikat-Nya, semua kitab-Nya, segenap Rasul-Nya, bahkan tidak menolak apa pun yang didatangkan Allah SWT dan diriwayatkan Rasul-Nya. Allah SWT itu Tuhan Yang Maha Esa, Yang Tiada Tuhan selain Dia, Dia tidaklah perlu berteman, tidak beranak ataupun diperanakkan.

Adapun Nabi Muhammad SAW itu hamba dan utusan Allah SWT, dan syurga ataupun neraka itu benar adanya, di mana hari kiamat pun nescaya datang tanpa diragukan lagi, bahkan Allah SWT akan membangkitkan manusia-manusia dari lubang kuburnya. Allah SWT pun istawa di atas ’Arasy-Nya sebagimana dinyatakan dalam firman-Nya :

”Tuhan Yang Maha Pemurah istawa atas ’Arsy”(Thaha : 05)

Kemudian disebutkan dan ditetapkan sifat-sifat khabariah yang lain sebagaimana datangnya tanpa mempersoalkan bagaimananya.

Akhirnya bab ini ditutup dengan perkataan beliau : ”Begitulah, semua ini merupakan doktrin-doktrin ahli sunnah(ahli hadith) yang juga sepadan dengan ajaranku, sehingga aku pun dituntut untuk menetapkannya dan menyampaikannya. Sungguh kepada Allah SWT saja aku memohon taufiq dan pertolongan-Nya, bahkan kepada-Nya pula aku bertawakkal dan berserah diri. Hasbunallahu wa ni’mal wakiil.”

(Rujuk kitab yang sama hlm. 363 – 372)

Justeru bagaimana dengan 'aqidah kita? Ramai orang mendakwa bahawa dia ber'aqidah dengan 'aqidah firqah an-Najiyah yakni 'aqidah Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah, walhal sangat disayangkan hakikat sebenarnya 'aqidahnya ialah 'aqidahnya kelompok sesat Mu'tazilah!

Wednesday, March 28, 2007

Kitab-kitab Utama Dalam Bidang Aqidah







Syarh 'Aqidah At-Thahawiyah karya Ibnu Abi Al-Izz Al-Hanafi Ad-Dimasyqi ini adalah kitab yang dicadangkan oleh Al-'Allamah Al-Muhaddith Syeikh Muhammad Nasir-ul-Deen Al-Albani(rhm) untuk ditela'ah dan dikaji. Kitab ini benar-benar mendapat perhatian para ulama' khususnya para muhaddith dalam mentahqeeq, mentakhrij dan memberikan ta'liq. Antara yang melakukan usaha terpuji ini adalah Al-'Allamah Syeikh Ahmad Muhammad Syakir(rhm).
Demikian juga dengan Syeikh Al-Albani selain melakukan tahqeeq dan takhrij ke atas karya Ibnu Abi al-Izz tersebut, beliau juga memberikan syarh dan komentar ringkas terhadap matan asal at-Thahawiyah sebagaimana hal ini boleh dilihat di dalam kitabnya yang berjudul Al-'Aqidah at-Thahawiyah Syarh wa Ta'liq.

Kitab ini turut mendapat perhatian Al-'Allamah Syeikh Syua'ib Al-Arnau'th dan Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki di mana kedua-dua tokoh ini bersama-sama melakukan takhrij dan memberikan komentar-komentar yang bermanfaat yang kemudiannya diterbitkan oleh Muassasah Ar-Risalah.

Satu lagi edisi kitab ini yang sepatutnya diberi perhatian adalah edisi yang disusun semula oleh Syeikh Abdul Akhir Hammad Al-Ghunaimi yang berjudul Tahdzib Syarh at-Thahawiyah. Istimewanya kitab ini ialah penyusun memasukkan takhrij, tahqeeq dan komentar-komentar dari Syeikh Ahmad Syakir, Al-Albani, Syua'ib Al-Arnau'th dan juga ta'liq Syeikh Bin Baz ke atas matan at-Thahawiyah ke dalam kitab yang disusunnya ini. Pustaka at-Tibyan telah mengambil langkah yang sangat terpuji dengan melakukan terjemahan bagi edisi Tahdzib ini. Terdiri atas 2 jilid.

Edisi terjemahan bagi Kitab Tahdzib Syarh At-Thahawiyah

Sunday, March 25, 2007


Ini adalah terjemahan kitab Al-Bidayah wa An-Nihayah yang diusahakan oleh Penerbit Darul Haq, Indonesia. Edisi ini bukanlah edisi lengkap tetapi khusus berkenaan masa khulafah ar-Rasyidin yang ditahqeeq dan disusunkan semula. Kitab ini merungkai dan memaparkan peristiwa sebenar yang berlaku di masa khulafah Ar-Rasyidin termasuk peperangan jamal dan siffin.



MANHAJ AL-IMAM ASY-SYAFI'I



Al-Buwaytiy menceritakan bahawa : “Aku pernah mendengar al-Shafi’iy berkata : “Hendaklah kalian berdampingan dengan tokoh-tokoh hadith kerana sesungguhnya mereka adalah orang yang paling banyak kebenaran.”


Al-Shafi’iy juga telah berkata : “Sekiranya aku terpandang seorang lelaki di kalangan tokoh-tokoh hadith, maka seolah-olah aku telah terpandang seorang lelaki daripada sahabat-sahabat Rasulullah SAW. Allah SWT membalas mereka dengan kebaikan. Merekalah yang telah menjaga al-Qur’an. Semoga kebaikan mereka diberi kepada kita."

(Rujuk : Sejarah Tamadun Islam Ibn Kathir , Jld 10, hlm. 355)




Untuk kajian lebih lanjut berkenaan Manhaj Al-Imam Asy-Syafi'i khususnya di dalam aqidah adalah sangat disyorkan kita menela'ah sebuah thesis PhD dari Universiti Islam Madinah yang ditulis oleh Dr. Muhammad A.W Al-'Aqil. Edisi terjemahan bagi thesis ini telah diusahakan oleh Pustaka Imam Asy-Syafi'i.